Resonan-Sci — Tentang Keilmuan
20 Oct 2026
Murid dan mahasiswa kita sudah akrab dengan ChatGPT. Pertanyaannya bukan lagi “boleh atau tidak”, tapi bagaimana memakai Generative AI dengan etis. Ini panduan praktisnya, lengkap dengan templat siap pakai.
Coba deh tanya di kelas: siapa yang belum pernah pakai ChatGPT atau Gemini? Kemungkinan besar hampir tidak ada yang angkat tangan. Bagi Gen Z dan Gen Alfa, bertanya ke AI itu sewajar membuka Google. Masalahnya, kebiasaan ini berkembang jauh lebih cepat daripada aturan di sekolah dan kampus kita.
Tulisan ini merangkum Panduan Etika Penggunaan Generative AI yang sudah diterapkan di STIMATA, salah satu kampus AI di Malang. Bahasanya kami buat sesederhana mungkin, supaya bisa langsung dipakai di sekolah maupun kampus Bapak/Ibu.
Melarang AI sama sekali memang terdengar paling aman. Tapi kenyataannya, murid tetap memakainya, hanya saja diam-diam. Akhirnya kita tidak tahu kapan AI dipakai, dan mereka tidak belajar memakainya dengan benar.
Pendekatan yang lebih masuk akal: atur, jangan larang total. Beri batasan yang jelas, minta murid jujur kalau memakai AI, dan rancang tugas yang tetap menuntut mereka berpikir.
Kuncinya satu: AI membantu berpikir, bukan menggantikan berpikir. Penilaian, kejujuran ilmiah, dan keputusan akhir tetap di tangan manusia.
“Ketika jawaban menjadi murah dan instan, nilai pendidikan justru terletak pada kualitas pertanyaan dan kedalaman penalaran.”
| ✅ Boleh (asal ditulis kalau pakai AI) | ❌ Jangan |
|---|---|
| Cari ide atau bahan diskusi | Kumpulkan esai/laporan buatan AI apa adanya |
| Bikin kerangka tulisan | Pakai AI saat ujian yang jelas-jelas melarangnya |
| Cek tata bahasa atau kode program | Bikin data penelitian palsu |
| Merangkum artikel, lalu cek sumber aslinya | Akali cek plagiarisme atau bikin sitasi fiktif |
Tidak harus satu aturan untuk semua. Bapak/Ibu bisa menentukan aturannya per tugas, asal disampaikan sejak awal.
| Model | Cocok untuk | Contoh |
|---|---|---|
| 🚫 Tanpa AI | Mengukur kemampuan murid secara langsung | Ujian esai, refleksi pribadi |
| 🟡 AI boleh, terbatas | AI sebagai alat bantu, wajib ditulis | Cari ide, perbaiki bahasa, bantu teknis coding |
| 🟢 AI jadi bagian belajar | Sengaja dirancang memakai AI | Murid mengoreksi jawaban AI, simulasi kasus, refleksi penggunaan AI |
Daripada melawan kebiasaan murid bertanya ke AI, di STIMATA kebiasaan itu kami manfaatkan, tapi sumbernya kami kendalikan dengan Google NotebookLM:
Hasilnya: jawaban mengarang berkurang, materi tetap sejalan dengan pelajaran, dan murid terbiasa menelusuri sumber. Prinsip ini juga dipakai Lion-AI, asisten AI di portal STIMATA yang hanya menjawab dari dokumen resmi kampus.
| NotebookLM | ChatGPT, Gemini, dll | |
|---|---|---|
| Jawaban dari mana? | Hanya dari dokumen yang kita unggah | Dari mana saja di internet |
| Mudah dicek? | Mudah, sumbernya jelas | Perlu dicek manual |
| Risiko mengarang | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Privasi data | Lebih terjaga | Tergantung kebijakan platform |
| Cocok untuk | Belajar sesuai materi kelas | Eksplorasi umum |
| Situasinya | Boleh? | Kenapa |
|---|---|---|
| AI bikin kerangka, isinya ditulis sendiri | ✅ | Asal ditulis bahwa pakai AI |
| AI merangkum artikel, lalu dicek ke sumber aslinya | ✅ | Sudah diverifikasi |
| AI menulis seluruh kode, murid tidak paham isinya | ❌ | Kalau tugasnya mengukur kemampuan murid |
| Pakai AI di pelajaran dasar yang melatih logika, misalnya pemrograman dasar | ❌ | Fondasi berpikirnya harus dibangun sendiri dulu |
| Pakai AI sebagai alat bantu di tingkat lanjut, dan murid bisa menjelaskan semua hasilnya | 🟡 | Boleh, asal dasarnya sudah dikuasai |
| Mencantumkan referensi dari AI yang ternyata tidak ada | ❌ | Termasuk kelalaian akademik |
| Guru membuat soal dan kunci jawaban pakai AI tanpa dicek | ❌ | Jawaban AI bisa keliru |
Aturan Pakai AI – [Nama Mapel/Mata Kuliah]
Saya menyatakan (centang salah satu):
☐ Tidak memakai AI sama sekali.
☐ Memakai AI sebagai alat bantu. Aplikasi: ______. Bagian yang dibantu: ______. Tujuan: ______. Analisis utamanya tetap pemikiran saya sendiri.
☐ Memakai AI hampir penuh. Aplikasi: ______. Saya paham konsekuensinya.
Pernyataan ini saya buat dengan jujur.
Minta murid menjawab empat pertanyaan ini:
Sekarang jawaban bisa didapat dalam hitungan detik. Jadi yang perlu kita uji adalah apakah murid benar-benar paham. Beberapa kebiasaan kecil yang bisa dicoba:
“Jika AI menyediakan jawaban, maka dosen harus menguji pemahaman.” (Panduan Etika Penggunaan Generative AI STIMATA)
Belum tentu. Jadi masalah kalau hasil AI diaku sebagai karya sendiri, atau dipakai untuk mengakali cek plagiarisme. Kalau dipakai sebagai alat bantu dan ditulis dengan jujur, boleh, selama tugasnya mengizinkan.
Boleh, untuk tugas yang memang mengukur kemampuan murid secara langsung, seperti ujian esai. Yang kurang disarankan adalah melarang AI untuk semua kegiatan.
Jangan wajibkan yang berbayar. Kalau AI jadi bagian pelajaran, sebaiknya sekolah atau kampus menyediakan akses bersama.
Untuk belajar sesuai materi kelas, NotebookLM lebih aman karena hanya menjawab dari dokumen yang diunggah guru. ChatGPT cocok untuk eksplorasi umum, tapi jawabannya perlu dicek lebih teliti.
AI bukan musuh pendidikan. Selama dipakai dengan bijak, AI justru bisa membuat murid kita lebih kritis. Panduan lengkapnya, termasuk sanksi dan formulir resminya, bisa dibaca di Panduan Akademik STIMATA. Penasaran bagaimana AI diajarkan dan dikembangkan di STIMATA? Mampir ke Kampus AI di Malang: Belajar Kecerdasan Buatan di STIMATA.
Sekolah Bapak/Ibu sedang bersiap mengajarkan Koding dan Kecerdasan Artifisial, atau butuh pendampingan memakai AI di kelas? Ngobrol dengan STIMATA.
Penulis
Ditulis oleh Dr. Tubagus Mohammad Akhriza, S.Si., M.MSI, penyusun Panduan Etika Penggunaan Generative AI STIMATA dan narasumber TOT guru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) tingkat nasional.
Rujukan: Kemendikbudristek (Ditjen Diktiristek), Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi (2024); UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research (2023).
Pernyataan pakai AI
Artikel ini disusun dengan bantuan Generative AI untuk merangkum Panduan Etika STIMATA, lalu ditelaah dan disetujui penulis.